TIADA SUKSES TANPA USAHA DAN DOA, JIKA MAU SUKSES HARUS BERANI MENGAMBIL RESIKO.
Kamis, 15 Maret 2012
DESA TIGAWASA GELAR ACARA PASRAMAN REMAJA JUNJUNG TINGGI BUDAYA LOKAL
Kuatnya pengaruh dunia media, khususnya media televisi di kalangan remaja begitu kuat mencekoki kebiaasaan remaja dewasa ini. Sajian hiburan televisi cenderung membuat mereka apatis terhadap warisan budaya lokal. Hal ini ditambah dengan rasa sayang berlebihan orang tua membiarkan remaja bersikap malas dan konsumtif. Menyikapi hal tersebut kehadiran Pasraman di tiap Desa Pakraman cukup efektif memberi pembelajaran guna merebut hati remaja peduli dan paham akan nilai warisan budaya lokal. Seperti halnya yang dilaksanakan oleh sebuah desa bali aga di kecamatan Banjar yaitu Desa Tigawasa. Desa Tigawasa melaksanakan pasraman remaja selama 2 bulan yang pembukaanya dilaksanakan pada senin (2/1). Kegiatan ini diketuai oleh I Made Murtika selaku kepala desa Tigawasa, Sekretaris I Ketut Arjasa, Bendahara Putu Aryana Putra, dan I Komang Ariosika, S.Pd., Ni Kadek Purnami sebagai anggota. Menurut Arjasa yang ditemui oleh TPI pada sabtu (25/2), pasraman dilakukan setiap hari sabtu dan minggu. “saya berharap agar remaja-remaja yang mengikuti kegiatan ini bisa memanfaatkan apa yang didapat dari pasraman dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat memaknai apa makna belajar sesungguhnya”, ujar Arjasa.
Menurut konsep Hindu, proses belajar itu sepanjang hidup. Dari masa brahmacari, grhasta, vanaprastha sampai sanyasin asrama. Dalam konteks kekinian, masa brahmacari asrhama itu diimplementasikan ke dalam aktivitas pendidikan formal dari jenjang pendidikan TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Namun, pendidikan formal itu saja belum cukup lantaran “kemasannya” cenderung dititikberatkan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
Lantas, bagaimana konsep pesraman untuk manusia Hindu yang berusia pra-remaja/remaja atau bagi mereka yang sudah mengenyam pendidikan SLTP dan SMU? materi pelajaran tetap harus dititikberatkan pada bidang agama dan pengenalan budaya Bali. Namun, materinya jelas harus diperluas. misalnya kalau di pesraman anak-anak mereka hanya diajari ngulat tipat dan klakat, maka di pesraman lanjutan itu mereka sudah diajari membuat aci-aci upacara yang lebih kompleks seperti membuat aneka macam caru serta bebantenan yang lebih rumit. Jelas harus ada perkembangan dari materi-materi yang diajarkan di pesraman untuk anak-anak SD. Hal ini sesuai dengan tema yang diusung oleh desa Tigawasa dalam melaksanakan pasraman kali ini yaitu, “malarapan pasraman remaja ngiring ajegang adat lan budaya Baline”.
Pasraman remaja yang dilaksanakan oleh desa Tigawasa ini sangat direspon positif oleh seluruh warga desa, khususnya para remaja. Sebut saja namanya Vera Setianingsih yang merupakan peserta pasraman. Vera mengaku dirinya mendapat wawasan pengetahuan setelah mengikuti pasraman remaja ini. “saya dan eman-teman sangat antusias mengikuti kegiatan ini”, tegas Vera. Arjasa juga mengatakan bahwa pada pasraman remaja ini, peserta diajarkan beberapa materi terkait budaya bali diantaranya adalah Budi Pekerti (dengan tutor I Ketut Arjasa, S.Pd.SD), Tatwa (dengan tutor Putu Wirata, S.Pd), Fatologi Remaja (Ketut Arbawa), Darmagita (Ketut Suartika S.Pd.), Nyastra (Putu Rubiantika, S.Pd.B), Ketrampilan (Ketut Sudaya., Jro Km. Periastini), Yoga Asana (Luh Ayu Marheni, S.Pd.SD). Arjasa menambahkan bahwa penutupan pasraman remaja akan dilaksanakan melalui tirta yatra ke Pura Besakih tepatnya pada minggu (1/4).
Diakhir perbincangan dengan TPI, arjasa mengatakan bahwa manusia Bali pada umumnya dan remaja tigawasa pada khususnya, sudah sewajarnya menjunjung tinggi budaya local, dan menerima pengaruh globalisasi dengan bijak. Dengan bekal pengetahuan agama generasi muda diyakini dapat memahami dan mencintai peradaban agama Hindhu miliknya, tidak terpengaruh pada budaya asing yang tidak cocok dengan kepribadian dan budaya Bali. Agama Hindhu di masa lalu kini perlu dibangkitkan untuk diaplikasikan prakteknya dalam pengamalan agama saat ini, sehingga pelaksanaan ritual agama tidak bersifat dogma, kaku dan mule keto. (rvn)
Sabtu, 18 Februari 2012
SMP SATU ATAP N 2 BANJAR BUKAN SEKOLAHAN YANG KEKURANGAN ATAP PACU DENGAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI (TUPOKSI)
Hujan gerimis pagi itu tidak menyurutkan hati seorang kepala sekolah SMP Satu Atap Negeri 2 Banjar untuk melaksanakan kegiatan demi kegiatan di sekolah yang terletak di sebuah desa Bali Aga Desa Tigawasa. SMP Satu Atap N 2 Banjar merupakan sekolah Satu Atap ke-2 di kecamatan Banjar. Sekolah yang terletak di dataran tinggi wilayah kecamatan Banjar. Walaupun begitu, sekolah ini menjadi salah satu mutiara terpendam di daerah perbukitan. Walaupun berada di daerah yang cukup jauh dari perkotaan dan menyandang status sekolah “Satu Atap”, tidak menjadikan SMP Satu Atap Negeri 2 Banjar sebagai sekolah-sekolahan ataupun sekolah yang kekurangan atap seperti yang dipelesetkan oleh beberapa orang yang belum mengenal dan memahami keberadaan SMP Satu Atap.
Sekolah yang kini dipimpin oleh A.A. Suantara, S.Pd ini telah menunjukkan kemajuan dengan berbekal semangat bersaing yang tinggi. Hal ini didukung oleh 15 orang tenaga pendidik dan 6 orang tenaga kependidikan serta berbagai inovasi dilakukan. Pertengahan Januari tepatnya 14 januari 2012 telah diadakan workshop yang diikuti oleh guru-guru SMP Satu Atap N 2 Banjar dan Guru SDN 3 Tigawasa. Putu Agus Eka Mastika Yasa, S.Pd dalam kegiatan ini sebagai panitia, dan sekaligus sebagai Kaur Kurikulum menyampaikan bahwa kegiatan workshop dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari keberhasilan SMP Satu Atap N 2 Banjar dalam memperoleh Bantuan Peningkatan mutu dan Keterampilan. Mastika menambahkan bahwa tema dari workshop ini adalah Meningkatkan Kapasitas Pendidik dan Tenaga Kependidikan SMP Satu Atap N 2 Banjar. “Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan pendidik dan tenaga kependidikan (khususnya di SMP Satu Atap N 2 Banjar) dalam merumuskan administrasi guru dan memahami lebih mendalam pengimplementasian karakter bangsa dalam silabus maupun RPP”, tegas Mastika ketika ditemui TPI (28/1). Pada kegiatan ini yang menjadi narasumber adalah I Made Arduita, S.Pd. Beliau memberikan saran atau masukan kepada guru dan kepala sekolah terkait dengan cara menyususn RPP dan silabus yang baik dan benar. Di sela-sela menjadi narasumber, Arduita sangat menekankan Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI). “Jika tupoksi sudah dijalankan, niscaya suasana sekolah akan kondusif, sing ada ane lakar ngurusang anak len”, tegas Arduita.
Selain kegiatan workshop, pada semester genap ini, siswa SMP Satu Atap N 2 Banjar khususnya kelas 7 dan 8 memperoleh pelajaran tambahan yaitu keterampilan (membuat kue kering). Luh Putu Sri Wahyuni, S.Pd sebagai salah satu pembina kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan setiap hari Jumat pada jam ke 7. Kadek Mastiasih yang juga pembina kegiatan menambahkan, dengan dilaksanakannya kegiatan tersebut siswa memperoleh pengalaman baru dan tentunya suatu keterampilan yang bisa membantu mereka dikemudian hari.
“Sebagai pendukung kebgiatan pembelajaran, sekolah kami telah memperoleh bantuan sejumlah buku. Walaupun tidak memiliki ruang perpustakaan khusus, kami menempatkan buku-buku yang kami miliki di ruang guru”, ujar Kaur Sarana Prasarana, Pak Putu Suartika. Terinspirasi dari pepatah tak ada rotan akar pun jadi, Pak Putu mengusahakan tempat untuk meletakkan dan menyusun buku-buku yang kami miliki sehingga siswa bisa memanfaatkan buku-buku tersebut. “Siswa kamipun terlihat sangat antusias memiliki perpustakaan pojok”, ujar Suartika. Banyak siswa yang datang ke perpustakaan pojok saat jam istirahat. Dalam ruang perpustakaan yang sekaligus ruang guru tersebut sering terlihat keakraban tidak hanya antar siswa tetapi juga antara guru dan siswa.
Untuk kegiatan kesiswaan, Ni Putu Ayu Winursita Dewi, S.Pd., sebagai Kaur Kesiswaan menyampaikan, berbagai ekstrakurikuler dilaksanakan di SMP Satu Atap N 2 Banjar. Kegiatan ekstrakurikuler wajib diikuti oleh seluruh siswa, disesuaikan dengan minat dan bakat mereka. Kegiatan-kegitan tersebut antara lain: Mekidung yang dibina oleh Putu Suartika, S.Pd; Majejaitan dibina oleh Putu Bidariyani, S.Ag dan Dayu Komang Suarsini, KSP Matematika dibina Putu Agus Eka Mastika Yasa, S.Pd; KSP IPA dibina Luh Dewi Hannawati, S.Pd; KSP Bahasa Inggris dibina Ni Putu Ayu Winursita Dewi, S.Pd; Tari dibina Kadek Mastiasih; Pencak Silat dibina Putu Rentiasa; Atletik dibina oleh Wayan Mahardika; dan TIK dibina oleh Putu Eka Perasetia. Ditambahkan pula, untuk kegiatan kesiswaan kami telah melaksanakan latihan kepemimpinan untuk OSIS baru Tapel 2012/2013. Kegiatan yang dilaksanakan sebagai salah satu pengimplementasian krakter bangsa di sekolah tersebut diharapkan dapat membimbing siswa kami khususnya pengurus OSIS untuk menjadi siswa yang mandiri, memiliki semangat kebangsaan dan lebih mengenal kegiatan dalam organisasi. Hal yang membanggakan ditambahkan oleh Pak Agung, dalam kegiatan porsenijar tingkat kecamatan yang dilaksanakan pada Kamis, 26 Januari 2012 bertempat di lapangan Kaliasem, siswa SMP Satu Atap memperoleh juara 1 lari 400 meter putri yang diraih oleh Komang Eriani dari kelas VIII. Selain itu pada lari 400 meter putra dan 100 meter putra, siswa kami menempati masing-masing juara ke-2 yang diraih oleh Putu Astika dan Putu Eka Sudiantika. Komang Eriani juga meraih juara 2 pada lari 100 meter putri. Sementara itu Kadek Agus Dian Mana Putra meraih juara 3 lari 200 meter putra.
Diakhir perbincangan dengan TPI, Agung Suantara berharap agar sekolahnya menjadi sekolah yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan masyarakat desa Tigawasa pada khususnya. Agung Suantara juga setuju dengan pendapat Arduita di depan tadi, karena jika Tupoksi benar-benar dijalankan, nisacaya sekolah akan kondusif dan semua akan berjalan lancar. Selain itu, Agung Suantara berterimakasin kepada masyarakat yang sudah memberikan kepercayaan mereka dengan menyekolahkan anaknya di SMP Satap Negeri 2 Banjar ini. “tentunya sekolah kami tidak lagi dianggap sebagai sekolah yang kekurangan atap”, pungkas Agung Suantara seraya tersenyum ramah. (rvn)
PEKAN OLAH RAGA DAN SENI PELAJAR (PORSENIJAR) KECAMATAN BANJAR TINGKATKAN SPORTIFITAS DAN KUALITAS
Banjar - Didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat (men sana in conpori sano), itulah pepatah yang menginspirasi kegiatan yang diadakan di kecamatan Banjar tepatnya di lapangan Kaliasem. Pekan olah raga dan seni pelajar (porsenijar) begitu olahragawan menyebutnya. Porsenijar ini dilaksanakan oleh Kecamatan Banjar pada jumat (25-26/1) dengan melibatkan seluruh guru olahraga di kecamatan Banjar, dan keseluruhan atlit dari masing-masing gugus sebanyak 230 orang siswa.
Ketua panitia Gusti Ketut Widia, S.Pd., mengatakan bahwa kegiatan ini berlangsung selama dua hari, dan diperkirakan di kabupaten akan dilaksanakan pada minggu ketiga bulan Februari 2012. Selain itu menurut Widia, Porsenijar kali ini selain diikuti oleh sekolah negeri juga diikuti oleh sekolah non formal PKBM Widya Aksara Banjar Paket B, C Tigawasa. “saya berharap agar ada salah satu dari mereka yang bisa menjadi juara”, ujar Widia.
Pengumuman pemenang dilaksanakan pada hari kedua yaitu hari Sabtu (26/1). Widia menyampaikan bahwa untuk kategori SD lari 60 m dimenangkan oleh dari SD No.1 Gobleg (juara I), dari SD No. 3 Pedawa (juara II), dan Komang Desi Wulandari dari SD No 10 Banjar (juara III). Lari 80 m dimenangkan berturut-turut oleh Gede Mahardika dari SD No 2 Pedawa, Komang Sumarateka dari SD No.2 Kaliasem, Putu Ari Acintya dari SD No. 1 Temukus. Selanjutnya untuk lompat jauh Putri berturut turut dimenangkan oleh Kadek Erlin Aristiani dari SD No. 2 Kaliasem, Komang Dayuh Atini dari SD No. 3 Kaliasem, dan Ni Kadek Jorianti dari SD No. 2 Tigawasa.sedangakan lompat jauh putra dimenangkan oleh Komang Gunawan dari SD No.1 Kaliasem, Kadek Kris Ardana dari SD No. 10 Banjar, dan Putu agus Ariawan dari dari Sd No. 3 Munduk. Pada tolak peluru putri dimenangkan oleh Komang Arlin Mas Cahaya Ningsih dari Sd No. 1 Cempaga, Putu Mega Riantari dari SD No. 2 Pedawa, dan Komang Winda Apriani dari SD No. 2 Kaliasem. Kemudian pada lompat tinggi putri dimenangkan oleh Putu Sumerta Sari dari SD No. 5 Gobleg, Kadek Devi Lestari dari SD No 1 Temukus, dan Luh Tiara Ayu Pratiwi dari SD No. 1 Temukus. Pada kelas tolak peluru putra dimenangkan berturut turut oleh Kadek Pendi Sepriantika dari SD No. 2 Pedawa, Komang Gunawan dari SD No. 1 Kaliasem, dan Kadek Apriliawan dari SD No. 3 Temukus. Kemudian untuk lompat tinggi putra dimenangkan oleh Kadek Agus Indrawan dari SD No. 1 Temukus, Komang Gunawan dari SD No. dari SD No. 3 Temukus, dan Ketut Budi Arya Artana dari SD No. 4 Temukus. Sedangkan untuk juara SMP bisa dilihat pada table perolehan juara di bawah ini.
NO CABANG ATLETIK NAMA ASAL SEKOLAH
1 Lari 100 m Putri 1. Ketut Sopriani SMPN 3 Banjar
2. Komang Arisa Anggun C SMPN 3 Banjar
3. Ni Komang Eriani SMP Satap Negeri 2 Banjar
2 Lari 100 m Putra 1. Komang Sumadana SMPN 3 Banjar
2. Putu Eka Sudiantika SMP Satap Negeri 2 Banjar
3. Dewa Komang Sabtuawan SMPN 1 Banjar
3 Lari 200 m Putri 1. Putu Novi Widiantari SMP Satap Negeri 1 Banjar
2. Komang Novi Indayani SMPN 1 Banjar
3. Komang Risma Sri Wahyuni SMPN 2 Banjar
4 Lari 200 m Putra 1. Dede Wahyu Rismantaka SMPN 3 Banjar
2. Putu Andre Budiartana SMPN 3 Banjar
3. Ketut Hedy Hermawan SMPN 1 Banjar
5 Lari 400 m Putri 1. Ni Komang Eriani SMP Satap Negeri 2 Banjar
2. Made Wangi Eka Budi SMPN 1 Banjar
3. Ida Ayu Komang Dina L. SMPN 1 Banjar
6 Lari 400 m Putra 1. Edi Suarnaya SMPN 3 Banjar
2. Putu Candra SMPN 2 Banjar
3. Putu Kris Ariantika SMPN 2 Banjar
7 Lari 800 m Putri 1. Ni Kadek Riantini SMPN 3 Banjar
2. Komang Ariska Devi SMPN 2 Banjar
3. Kadek Mita Krisnayani SMP Satap Negeri 1 Banjar
8 Lari 800 m Putra 1. Gede Candra Utama SMPN 3 Banjar
2. Komang Arta SMPN 1 Banjar
3. Ketut Suardika SMPN 1 Banjar
9 Lari 1500 m Putri 1. Ni Putu Fera Yuliatia Dewi SMP Satap Negeri 1 Banjar
2. Luh Apriasih SMPN 3 Banjar
10 Lari 1500 m Putra 1. Komang Adi Sayana SMPN 3 Banjar
2. Gede Suartika SMPN 1 Banjar
3. Ketut Gelgel Ariada SMPN 1 Banjar
11 Lari 5000 m Putra 1. Kadek Edi Suarnaya SMPN 3 Banjar
2. Gede Candra Utama SMPN 3 Banjar
3. Kadek Noya Redianto SMP Satap Negeri 1 Banjar
12 Lompat Jauh Putri 1. Komang Anisa Anggun SMPN 2 Banjar
2. Ketut Sopriani SMPN 3 Banjar
3. Desak Kadek Ayu Asrini SMPN 1 Banjar
13 Lompat Jauh Putra 1. Made Yudi Indra Permana SMPN 3 Banjar
2. Ketut Restiasa SMP Satap Negeri 1 Banjar
3. Ketut Adi Saputra SMPN 2 Banjar
14 Lompat Tinggi Putri 1. Komang Apriani SMPN 3 Banjar
15 Lompat Tinggi Putra 1. Miko Surya SMPN 3 Banjar
2. Made Yudi Indra Permana SMPN 3 Banjar
3. Komang Adik Sayana SMPN 3 Banjar
16 Lempar Lembing Putri 1. Putu Ayuk Ariani SMPN 3 Banjar
17 Lempar Lembing Putra 1. Komang Adik Sayana SMPN 3 Banjar
18 Tolak Peluru Putri 1. Kadek Sita Prismayanti SMPN 2 Banjar
2. Putu Mira Arista Dewi SMPN 3 Banjar
3. Putu Wiwin Andriani SMPN 3 Banjar
19 Tolak Peluru Putri 1. Ketut Hedy Hermawan SMPN 1 Banjar
2. Gede Dedi Sastrawan SMPN 3 Banjar
3. Dewa Km. Candra Wibawa SMPN 3 Banjar
20 Lempar Cakram Putri 1. Komag Apriani SMPN 3 Banjar
21 Lempar Cakram Putra 1. Dewa Km. Candra Wibawa SMPN 3 Banjar
2. Komang Mas Yudiarta SMPN 3 Banjar
22 Lompat Jangkit 1. Made Yudi Indra Permana SMPN 3 Banjar
2. Ketut Restiasa SMP Satap Negeri 1 Banjar
Selanjutnya untuk katagori SMA pada cabang Lari 100 m putra berturut-turut dimenangkan oleh Kadek Eka Iswarayasa dari SMAN 2 Banjar, Gede Agus Eka Mahendra dari SMAN 1 Banjar, dan Gede Suadnyana dari SMAN 1 Banjar. Lari 100 m putri dimenngkan oleh Ni Ketut Vera Setianingsih dari Paket C Nusa Indah Tigawasa, Ayu Nia Marista dari SMAN 1 Banjar, dan Putu Eka Suwianti dari Paket C Nusa Indah Tigawasa. Untuk lari 200 m putra dimenangkan oleh Made Yogi Pramana dari SMAN 2 Banjar, Gede Naya Artana SMAN 1 Banjar, dan Gede Nova Eliarta dari SMAN 1 Banjar. Kemudian untuk lari 400 m putri dimenangkan oleh Ni Ketut Vera Setianingsih dari Paket C Nusa Indah Tigawasa. Lari 400 putra dimenangkan oleh Gede Suadnyana dari SMAN 1 Banjar, Kadek Ena Suastika dari Paket C Nusa Indah Tigawasa, dan Kade Edi Dwipayana dari SMAN 1 Banjar. Selanjutnya untuk lari 800 m putri dimenangkan oleh Made Riki Juli Artasih dari SMAN 1 Banjar. Lari 800 m putra dimenangkan oleh Komang Edi Artana dari SMAN 1 Banjar, Putu Indrawan Sukadana dari SMAN 1 Banjar, dan Kadek Muliana Sartika dari SMAN 1 Banjar. Lari 1500 putri diraih oleh Rika Sari Adnyani dari SMAN 1 Banjar, dan Made Arianti dari SMAN 1 Banjar. Lari 1500 putra dilaraih oleh Putu Sudikarya dari SMAN 2 Banjar, dan Gede Naya Artana dari SMAN 1 Banjar.
Selanjutnya untuk jalan cepat 5000 putra dimenangkan oleh Putu Sudiawan Ariana dari SMAN 2 Banjar, dan I Made Rudi Sutrisna dari SMAN 1 Banjar. Lompat Jauh putri dimenangkan oleh Luh Sri Hulandari dari SMAN 2 Banjar, Ni Ketut Vera Setianingsih dari Paket C Nusa Indah Tigawasa, dan Putu Eka Suwianti dari Paket C Nusa Indah Tigawasa. Lompat jauh putra dimenangkan oleh Agus Eka Mahendra dari SMAN 1 Banjar, Nyoman Darmawan SMAN 2 Banjar, dan Komang Argita dari SMAN 2 Banjar. Lompat tinggi putri dimenangkan oleh Luh Sri Hulandari dari SMAN 2 Banjar. Lompat tinggi putra dimenngkan oleh Nyoman Darmawan SMAN 2 Banjar, Komang Argita dari SMAN 2, dan Komang Ari Wirantika dari Paket C Nusa Indah Tigawasa. Selanjutnya untuk Lompat jangkit putra dimenangkan oleh Sang Putu Davis Saputra dari SMAN 2 Banjar, dan Kadek Eka Iswarayasa dari SMAN 2 Banjar. Kemudian untuk tolak peluru putri dimenangkan oleh Kadek Ayu Nia Marista dari SMAN 1 Banjar, dan Putu Eka Suwianti dari Paket C Nusa Indah Tigawasa. Sedangkan untuk tolak peluru putra dimenangkan oleh Ena Muliawan dari SMAN 1 Banjar, Sang Putu Davis Saputra dari SMAN 2 Banjar, danPutu Indrawan Sukadana dari Sang Putu Davis Saputra dari SMAN 2 Banjar.
Diakhir perbincangan dengan TPI, Ka UPP Kecamatan Banjar I Putu Sutama, S.Pd., M.Si., yang pada kesempatan itu memantau kegiatan porsenijar mengatakan bagaimana antusias panitia melaksanakan porsenijar dan semngat peserta mengikuti porsenijar. ”saya bangga kepada mereka yang sudah berpartisipasi mengikuti porsenijar, apalagi untuk porsenijar kali ini diikuti oleh sekolah pendidikan kesetaraan paket B dan C, tentunya akan lebih lengkap”, terang Sutama. Selain itu Sutama berharap agar kegiatan berjalan lancar, dan ke depannya bisa menjadi lebih baik dari sekarang. Salam olahraga! (rvn)
Senin, 19 Desember 2011
Tugas Individu Psikologi Pendidikan PENERAPAN QUANTUM LEARNING DI PENDIDIKAN KESETARAAN NON FORMAL (Ditinjau dari Psikologis Warga Belajar)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemerintah sedang gencar-gencarnya melaksanakan program pendidikan dalam rangkan meningkatkan kualitas pendidikan itu sendiri. Hal ini dimaksudkan agar makin tumbuh kesadaran akan pentingnya pendidikan, baik itu pendidikan formal maupun non formal (pendidikan luar sekolah) mendorong masyarakat untuk terus berpartisipasi aktif di dalamnya. Bertitik tolak dari permasalahan yang dihadapi, pendidikan non formal berusaha mencari jawaban dengan menelusuri pola-pola pendidikan yang ada, seperti pesantren, dan pendidikan keagamaan lainnya yang keberadaannya sudah jauh sebelum Indonesia merdeka, bertahan hidup sampai sekarang dan dicintai, dihargai dan diminati serta berakar dalam masyarakat. Kelanggengan lembaga-lembaga tersebut karena tumbuh dan berkembang, dibiayai dan dikelola oleh dan untuk kepentingan masyarakat. Di sisi lain, masyarakat merasakan adanya kebermaknaan dari program-program belajar yang disajikan bagi kehidupannya, karena pendidikan yang diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi nyata masyarakat.
Pendidikan nonformal lebih banyak berbicara dan berbuat dari segi realita hidup dan kehidupan masyarakat. Perhatiannya lebih terpusat pada usaha-usaha untuk membantu terwujudnya proses pembelajaran di masyarakat. Dalam konteks ini orientasi pendidikan nonformal lebih menekankan pada tujuan agar masyarakat memiliki kemampuan untuk menghadapi permasalahan di lingkungannya, kemudian mencari upaya yang tepat untuk memecahkannya sehingga masyarakat dapat memperbaiki hakikat dan harkat hidupnya. Pendidikan nonformal merupakan bagian dari relung-relung kehidupan masyarakat yang akan dicari dan diharapkan peransertanya dalam memajukan kehidupan di masyarakat, dengan memiliki trade mark tersendiri yang membedakan dari jalur pendidikan yang lain.
Ada banyak alasan bagi kita untuk mempersoalkan bagaimana nasib pendidikan moral dan budi pekerti dikembangkan dan diajarkan kepada anak-anak kita di sekolah. Setiap bentuk anomali perilaku anak-anak di sekolah, baik dalam bentuk tawuran antar warga belajar, penyalahgunaan obat terlarang, penyimpangan perilaku seksual, hingga penistaan peran guru melalui facebook, misalnya, selalu disikapi dengan pendekatan serba formal, termasuk di antaranya usulan tentang perlunya membuat model kurikulum pengembangan pendidikan moral dan budi pekerti. Selain kurikulum, sepertinya tidak ada lagi cara lain untuk memperbaiki perilaku warga belajar menyimpang.
Para penggiat dan pemikir pendidikan sejak lama gundah tentang suasana pendidikan yang berlangsung di sekolah. Menurut Baedowi (2010) Orang seperti Ivan Illich dan Paolo Freire bahkan mengkritik dengan pedas sekali bahwa sekolah telah menjadikan para warga belajar seperti robot karena kurangnya mereka dilatih untuk memberi respon kreatif. Lebih hebat lagi bahkan keduanya juga menuduh sekolah telah memasung kebebasan, kreativitas serta membunuh daya pikir anak. Sejak lama sistem sekolah lebih banyak menggunakan pendekatan kognitif, tetapi abai dalam menumbuhkan dan melatih aspek afektif dan psikomotorik warga belajar secara tajam.
Kritik lain juga menyebutkan bahwa pendidikan dengan pola sekolah sama saja dengan industri yang bak sebuah mesin, memperlakukan anak-anak sebagai bahan baku yang siap dicetak menjadi orang yang hanya siap bekerja di pabrik. Karena lebih mementingkan aspek kognitif, sekolah sangat mendorong para warga belajar untuk menjadi manusia-manusia individualis yang lupa bahwa sesungguhnya mereka adalah makhluk sosial. Belajar seperti kompetisi untuk saling mengalahkan dan menyisihkan orang lain, sehingga menimbulkan banyak sekali labeling seperti murid pandai dan murid bodoh, kelas biasa dan kelas khusus, sekolah nasional dan sekolah internasional. Karena itu wajar jika orang seperti Ivan Illich dan Paulo Freire mengganggap bahwa proses pendidikan di sekolah tak ubahnya seperti ladang tempat di mana para guru membunuh dan menindas potensi kemanusiaan warga belajar-siswi mereka.
Cerita dan fakta di atas menunjukkan bahwa keterikatan (engagement) secara psikologis atau emosional sesungguhnya musuh guru itu sendiri. Pada konteks pendidikan di sekolah, jangan-jangan lebih banyak guru yang memberi PR daripada yang memeluk dan mencium warga belajarnya di kelas. Jangan-jangan guru-guru kita memang benar seperti dugaan Paulo Freire, mengganggap warga belajar-siswi mereka sebagai tahanan (prisoners) atau pekerja (employees) yang harus selalu ditekan untuk belajar dan belajar, tetapi bukan mendidik. Di sinilah sesungguhnya pembeda antara pengajar dan pendidik. Dibutuhkan guru dengan tingkat kecerdasan emosional yang tinggi, karena ikatan emosional yang lebih akan menyebabkan hubungan guru-warga belajar menjadi lebih akrab, dinamis, dan mudah membuat mereka memahami sekaligus mematuhi aturan yang ada.
Oleh karena itu, Quantum learning (QL) adalah model pembelajaran yang cocok diterapkan di pendidikan non formal, khususnya program kesetaraan paket C, yang notabene warga belajarnya memiliki psikologis yang beragam. QL ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat. Beberapa teknik yang dikemukakan merupakan teknik meningkatkan kemampuan diri yang sudah populer dan umum digunakan. Namun Bobbi DePorter mengembangkan teknik-teknik yang sasaran akhirnya ditujukan untuk membantu para warga belajar menjadi responsif dan bergairah dalam menghadapi tantangan dan perubahan realitas (yang terkait dengan sifat jurnalisme). Oleh karena itu, pada makalah ini akan dibahas lebih jauh tentang pengertian dan langkah QL, apa itu pendidikan non formal, bagaimana psikologis warga belajar di pendidikan non formal, serta penerapan QL di pendidikan non formal.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
1. Apa yang dimaksud Quantum Learning?
2. Bagaimana langkah-langkah Quantum Learning?
3. Bagimana pembelajaran di pendidikan non formal?
4. Bagimana psikologis peserta didik pada pendidikan non formal?
5. Bagaimana penerapan Quantum Learning pada pendidikan non formal?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui Quantum Learning
2. Mendeskripsikan langkah-langkah Quantum Learning
3. Mendeskripsikan pembelajaran di pendidikan non formal
4. Menjelaskan Psikis Peserta Didik pada Pendidikan Non Formal
5. Menjelaskan penerapan Quantum Learning pada pendidikan non formal
1.4 Manfaat Penulisan
Bagi Pembaca
Agar dapat menambah pengetahuan di bidang pendidikan, khususnya penerapan pembelajaran di pendidikan non formal. Selain itu agar pembaca tidak memandang sebelah pihak tentang pendidikan non formal.
Bagi Penulis
Agar dapat menerapkan model pembelajaran QL di masyarakat, khususnya di pendidikan non formal.
1.5 Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode kajian pustaka yaitu mencari sumber dari referensi yang relevan seperti buku dan internet. Selain itu, metode yang digunakan adalah metode wawancara langsung dengan penyelenggara pendidikan non formal khususnya program kesetaraan paket C.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Quantum Learning (Pembelajaran Quantum)
Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata (Wikipedia, 2011).
Quantum Learning didasari oleh salah satu teori behavioristik (perilaku) yaitu teori belajar menurut Thorndike (Wikipedia, 2011). Selanjutnya (Slavin, 2008) menambahkan bahwa teori belajar menurut Thorndike menyatakan belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme
Quantum Learning (QL) dimulai di Super Cam, sebuah program percepatan berupa Quantum Learning yang ditawarkan learning forum yaitu sebuah perusahaan pendidikan internasional yang menekankan perkembangan keterampilan akademis dan keterampilan pribadi (DePorter & Hernacki, 2011). QL diciptakan berdasarkan teori pendidikan seperti accelerated learning (Lozanov), multiple intelligences (Gardner), neuro-linguistic-programming (Grinder dan Bandler), experiental learning (Hahn), socratic inquiry, cooperative learning (Johnson dan Johnson), dan element of effective instruction (Hunter).
Tokoh utama di balik pembelajaran kuantum adalah Bobbi DePorter, seorang ibu rumah tangga yang kemudian terjun di bidang bisnis properti dan keuangan, dan setelah semua bisnisnya bangkrut, akhirnya DePorter menggeluti bidang pembelajaran. Dialah perintis, pencetus, dan pengembang utama pembelajaran kuantum. Semenjak tahun 1982, DePorter mematangkan dan mengembangkan gagasan pembelajaran kuantum di SuperCamp, sebuah lembaga pembelajaran yang terletak di Kirkwood Meadows, Negara Bagian California, Amerika Serikat.
Menurut DePorter (2011) QL adalah seperangkat metode dan falsafah belajar yang terbukti efektif di sekolah dan bisnis untuk semua tipe orang dan segala usia. QL pertama kali digunakan di Supercamp. Di Supercamp ini menggabungkan rasa percaya diri, keterampilan belajar, dan keterampilan berkomunikasi dalam lingkungan yang menyenangkan. QL didefinisikan sebagai interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Semua kehidupan adalah energi. Rumus yang terkenal dalam fisika kuantum adalah massa kali kecepatan cahaya kuadrat sama dengan energi. Atau sudah biasa dikenal dengan E=mc². Tubuh kita secara materi di ibaratkan sebagai materi, sebagai pelajar tujuan kita adalah meraih sebanyak mungkin cahaya. Interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya penerapan QL dalam pembelajaran. Jadi QL merupakan suatu kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman daya ingat, serta belajar sebagai proses yang menyenangkan dan bermakana.
2.2 Langkah Quantum Learning
Quantum Learning memiliki lima prinsip (DePorter, 2000) sebagai berikut.
1. Segalanya berbicara, maksudnya bahwa seluruh lingkungan kelas hendaknya dapat mengirim pesan tentang belajar.
2. Segalanya bertujuan, maksudnya semua yang terjadi dalam penggubahan pembelajaran harus mempunyai tujuan yang jelas dan terkontrol.
3. Pengalaman sebelum pemberian nama, maksudnya proses pembelajaran paling baik terjadi ketika warga belajar telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari.
4. Mengakui setiap usaha, maksudnya usaha yang telah dilakukan oleh warga belajar harus mendapat pengakuan dari guru dan warga belajar lainnya, agar menumbuhkan kepercayaan pada diri warga belajar yang telah berusaha dalam belajar.
5. Merayakan keberhasilan, maksudnya setiap usaha dan hasil dalam suatu pembelajaran selayaknya harus dirayakan dengan tujuan untuk meningkatkan asosiasi emosi positif dalam belajar. Pujian yang diberikan oleh guru digunakan untuk memperkuat perilaku yang diinginkan dan memberikan balikan kepada warga belajar atas apa yang mereka lakukan dengan baik.
Selanjutnya DePorter mengembangkan langkah pembelajaran kuantum melalui istilah TANDUR yang mengandung makna :
1. Tumbuhkan, maksudnya minat warga belajar dalam belajar harus ditumbuhkan sehingga warga belajar menjadi termotivasi dalam belajar dan memahami Apa Manfaatnya Bagiku (AMBAK). AMBAK adalah motivasi yang didapat dari pemilihan secara mental antara manfaat dan akibat-akibat suatu keputusan (DePorter, 2000)
2. Alami, maksudnya dalam pembelajaran, warga belajar hendaknya diberikan pengalaman nyata yang dapat dimengerti oleh semua warga belajar.
3. Namai, maksudnya dalam pembelajaran sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi dan metode lainnya.
4. Demonstrasikan, maksudnya warga belajar hendaknya diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.
5. Ulangi, maksudnya warga belajar harus diberi kesempatan mengulangi apa yang telah mereka pelajari sehingga warga belajar dapat menegaskan “Aku tahu bahwa aku memang tahu”.
6. Rayakan, maksudnya respon pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan.
DePorter menyatakan QL memiliki asas utama yaitu “bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Asas ini mengisyaratkan pentingnya seorang guru memasuki dunia warga belajar sebagai langkah awal dalam pembelajaran, sehingga warga belajar tidak bosan dalam pembelajaran, dan mempermudah warga belajar mengoptimalkan hasil belajar yang didapat dari pembelajaran. Selain itu juga bisa menghindari miskonsepsi warga belajar dan menuju ke konsep ilmiah.
QL menggunakan berbagai macam metode ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi, kerja kelompok, eksperimen, dan metode pemberian tugas. Suyatno (2009) menyatakan metode ceramah bermanfaat untuk mengetahui fakta yang sudah diajarkan dan proses pemikiran yang telah diketahui serta untuk merangsang warga belajar agar mempunyai keberanian dalam mengemukakan pertanyaan, menjawab atau mengusulkan pendapat. Metode demonstrasi membantu warga belajar dalam memahami proses kerja suatu alat atau pembuatan sesuatu, membuat pelajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkret serta menghindari verbalisme, merangsang warga belajar untuk lebih aktif mengamati dan dapat mencobanya sendiri.
Metode kerja kelompok akan membuat warga belajar aktif mencari bahan untuk menyelesaikan tugas dan menggalang kerjasama dan kekompakan dalam kelompok. Metode eksperimen membantu warga belajar untuk mengerjakan sesuatu, mengamati prosesnya dan mengamati hasilnya, membuat warga belajar percaya pada kebenaran kesimpulan percobaannya sendiri. Metode pemberian tugas akan membina warga belajar untuk mencari dan mengolah sendiri informasi dan komunikasi serta dapat membantu warga belajar untuk mengembangkan kreativitasnya. Metode yang telah dikemukakan di atas tidak ada yang sempurna bila berdiri sendiri, sehingga harus digunakan secara bergantian untuk saling melengkapi kekurangan-kekurangan yang ada. Penggunaan berbagai metode penyajian pelajaran secara bergantian akan membuat warga belajar menikmati kegiatan belajarnya dan tidak merasakan belajar yang monoton, serta perbedaan karakteristik pada warga belajar dapat terlayani dengan baik.
2.3 Pendidikan Non Formal
Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan (Wikipedia, 2010). Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.
Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. Pendidikan kesetaraan meliputi Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP) dan Paket C (setara SMU), serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik seperti: Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, sanggar, dan lain sebagainya, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.
Kelompok Belajar atau Kejar adalah jalur pendidikan nonformal yang difasilitasi oleh pemerintah untuk warga belajar yang belajarnya tidak melalui jalur sekolah, atau bagi warga belajar yang belajar di sekolah berbasis kurikulum non pemerintah seperti Cambridge, dan IB (International Baccalureate). Kejar terdiri atas tiga paket yaitu Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP) dan Paket C (setara SMU). Setiap peserta Kejar dapat mengikuti Ujian Kesetaraan yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
2.4 Psikologis Warga Belajar pada Pendidikan Non Formal
Menurut asalnya katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno: Psyche yang berarti jiwa dan logia yang artinya ilmu sehingga, secara etimologis psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa (Wikipedia, 2011). Selanjutnya Slavin (2008) mengatakan psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya. Sedangkan psikologi pendidikan adalah akumulasi pengetahuan, kebijaksanaan, da teori yang didasarkan pada pengalaman yang seharusnya dimiliki oleh guru untuk memecahkan permasalahan keseharian dengan cerdas. Jika dikaitkan dengan jalur pendidikan, terjadi perbedaan antara psikologis anak di pendidikan formal dengan anak di pendidikan non formal khususnya pendidikan kesetaraan.
Teori yang mendukung adalah teori perilaku (behavioristik). Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan danpembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antara lain Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran.
a) Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2008). Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike yakni (1) hukum efek; (2) hukum latihan dan (3) hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991). Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon.
a) Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.
b) Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis (Bell, Gredler, 1991).
c) Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajarpeserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.
d) Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan memengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya memengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2008). Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi, demikian seterusnya.
Selanjutnya terkait dengan pendidikan kesetaraan ini merupakan kegiatan yang dapat dilaksanakan dalam pendidikan luar sekolah sebagai suatu sub sistem pendidikan non formal. Yang dimaksud pendidikan non formal adalah “pendidikan yang teratur dengan sadar dilakukan tetapi tidak terlalu mengikuti peraturan-peraturan yang tetap dan ketat”. Dengan adanya batasa pengertian tersebut, rupanya pendidikan non formal tersebut berada antara pendidikan formal dan pendidikan informal. UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional menyebutkan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan mengganti. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, maka salah satu upaya yang ditempuh untuk memperluas akses pendidikan guna mendukung pendidikan sepanjang hayat adalah melalui pendidikan kesetaraan.
Warga belajar (peserta didik) merupakan insan yang melanjutkan pendidikannya pada jalur pendidikan nonformal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), baik Paket-A, Paket-B, Paket-C. Khususnya untuk Paket C, Pada tataran inilah kita akan sulit menerapkan berbagai kebijakan pendidikan kesetaraan manakala kita tidak membedah terlebih dulu aspek psikologis warga belajar. Motivasi warga belajar mengikuti Paket C harus kita gali lebih mendalam sehingga akan diperoleh kesimpulan yang mampu memberikan solusi. Selama ini kita memberikan ‘obat generik’ kepada warga belajar, misalnya konstruksi kebijakan pengayaan keterampilan vokasi dan pengembangan kepribadian professional tanpa studi awal yang mendalam. Sehingga yang terjadi adalah pelatihan vokasional yang hanya sekedar dilaksanakan tanpa mempertimbangkan kebutuhan sebenarnya dari warga belajar.
Begitu pula dengan sebagian peserta didik Paket C yang terpaksa putus sekolah karena hamil di luar nikah, tentunya juga punya motivasi tersendiri. Warga belajar dengan latar belakang seperti ini sudah barang tentu memiliki permasalahan psikologis yang tidak sederhana. Saya sempat melihat seorang warga belajar perempuan mengikuti ujian di dalam ruangan, sementara anaknya yang masih balita menunggu di selasar kelas. Jelas orientasi warga belajar tersebut adalah untuk memperoleh ijasah Paket C setara SMA agar paling tidak lebih mudah untuk mencari pekerjaan apa pun. Tentunya akan lebih mudah mencari pekerjaan dengan bekal ijasah Paket C daripada SMP. Pada saat ini pemilik counter HP pun lebih cenderung memilih karyawan yang berijasah SMA disbanding SMP.
Sampai disini, kita menyadari bahwa yang diperlukan oleh mereka adalah pembimbing dalam artian yang bisa memahami dan memberikan layanan pendampingan, tidak sekedar membelajarkan agar mereka menguasai kompetensi dasar setiap mata pelajaran. Karena dalam perjalanan selama proses pembelajaran tutor akan banyak bersinggungan dengan kondisi psikologis warga belajar yang memiliki beragam masalah dan latar belakangnya. Pada tataran inilah saya tertarik dengan slogan PTK PNF yaitu ‘tidak sekedar guru’. Tutor tidak hanya bertindak selaku pendidik, namun juga pembimbing sekaligus konselor.
Kembali kepada persoalan keterampilan fungsional yang dipandang menjadi ciri khas pendidikan kesetaraan. Berbagai alasan yang dimiliki warga belajar ketika menyatakan ikut serta Paket C yang berbeda, maka alangkah tidak bijaksana jika kita memberikan program keterampilan fungsional yang sama jenisnya kepada satu kelompok belajar. Namun sayangnya regulasi pengajuan dana bantuan operasional atau block grant sulit mengakomodasi adanya diversifikasi jenis keterampilan pada satu kelompok belajar. Inilah kesulitan yang dihadapi, sehingga ketika kebijakan tersebut diimplementasikan belum tentu mengakomodasi kebutuhan belajar setiap warga belajar. Karena terkadang yang menjadi keinginan kita belum tentu merupakan kebutuhan mereka.
2.5 Penerapan Quantum Learning pada Pendidikan Non Formal
QL mengacu konsep yaitu, “bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Inilah asas utama yang menjadi alasan dasar di balik segala strategi, model, dan keyakinan QL. Segala hal yang dilakukan dalam QL berorieontasi pada setiap interaksi dengan warga belajar, setiap rancangan kurikulum, dan setiap metode instruksional yang dibangun di atas prinsip, “bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”.
QL juga memiliki lima prinsip, atau kebenaran tetap. Serupa dengan asas utama, bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka, prinsip-prinsip ini mempengaruhi seluruh aspek QL. Jika dikaitkan dengan kondisi warga belajar pada pendidikan formal prinsip-prinsip tersebut menjadi sebagai berikut.
1) Segalanya berbicara
Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh, dari kertas yang dibagikan hingga rancangan pelajaran, semuanya mengirimkan pesan tentang belajar. Oleh karena itu, peran guru sangat penting dalam mengkondisikan kelas senyaman mungkin, apalagi anak di pendidikan formal sangat berbeda psikologisnya dengan anak pendidikan non formal khususnya paket C.
2) Segalanya bertujuan
Semua yang terjadi dalam perancangan tutor mempunyai tujuan semuanya. Apapun yang dibuat tutor untuk warga belajar harus memiliki tujuan, sehingga rancangan pembelajaran tersebut dapat bermanfaat bagi warga belajar.
3) Pengalaman sebelum pemberian nama
Otak kita berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks, yang akan menggerakkan rasa ingin tahu. Oleh karena itu, proses belajar paling baik terjadi ketika warga belajar telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari. Khususnya untuk anak paket C, karena mereka memiliki kondisi yang berbeda-beda dan memiliki relasi yang lebih maka mereka dengan mudah mendapatkan informasi sebelum mengetahui materi yang diajarkan. Misalnya meminjam catatan kepada kakak kelasnya terdahulu.
4) Akui setiap usaha
Belajar mengandung resiko. Belajar berarti melangkah keluar dari kenyamanan. Pada saat warga belajar mengambil langkah ini, mereka patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka. Misalnya, ketika warga belajar diberikan tugas rumah dan hasilnya bagus, maka sebagai tutor perlu mengakui usaha mereka, sehingga menjadi motivasi warga belajar.
5) Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan
Perayaan adalah sarapan pelajar juara. Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar. Misalnya memberikan tepuk tangan ketika salah seorang warga belajar mau maju presentasi di depan.
Quantum Learning hampir sama dengan sebuah simfoni. Jika anda menonton sebuah simfoni, ada banyak unsur yang menjadi faktor pengalaman musik anda. Kita dapat membagi unsur-unsur tersebut menjadi dua kategori : konteks dan isi (context and content). Konteks adalah latar untuk pengalaman anda. Konteks merupakan keakraban ruang orkestra itu sendiri (lingkungan), semangat konduktor dan para pemain musik (suasana), keseimbangan instrumen dan musisi dalam bekerjasama (landasan), dan interprestasi sang maestro terhadap lembaran musik (rancangan). Unsur-unsur ini berpadu dan kemudian, menciptakan pengalaman bermusik yang menyeluruh.
QL berakar dari upaya Dr. Georgi Lozanov, seorang pendidik berkebangsaan Bulgeria yang bereksperimen dengan apa yang disebutnya sebagai “suggestology“ atau “suggestopedia“. Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apapun memberikan sugesti positif ataupun negatif. Beberapa teknik yang digunakannya untuk memberikan sugesti positif adalah mendudukkan murid secara nyaman, meningkatkan partisipasi individu, menggunakan poster-poster untuk memberikan kesan besar sambil menonjolkan informasi, dan menyediakan guru-guru yang terlatih baik dalam seni pelajaran sugestif.
Istilah yang hampir dapat dipertukarkan dengan suggestology adalah ”pemercepatan belajar“ (accelereted learning). Pemercepatan belajar didefinisikan sebagai “memungkinkan warga belajar untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal, dan dibarengi kegembiraan“. Cara ini menyatukan unsur-unsur yang secara sekilas tampak tidak mempunyai persamaan : hiburan, permainan, warna, cara berpikir positif, kebugaran fisik, dan kesehatan emosional. Namun semua unsur ini bekerjasama untuk menghasilkan pengalaman belajar yang efektif.
Menurut Suyatno (2009) QL mencangkup aspek-aspek penting dalam program neurolinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur informasi. Program ini meneliti hubungan antara bahasa dari prilaku dan dapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian antara warga belajar dan guru. Para pendidik dengan pengetahuan NLP mengetahui bagaimana menggunakan bahasa yang positif untuk meningkatkan tindakan-tindakan positif yang merupakan faktor penting untuk merupakan fungsi otak yang paling efektif. Semua ini dapat pula menunjukkan dan menciptakan gaya belajar yang terbaik dari setiap orang, dan menciptakan ”pegangan” dari saat-saat keberhasilan yang meyakinkan.
QL memiliki paradigma yang harus dianut oleh warga belajar dan tutor adalah sebagai berikut (DePorter & Hernacki, 2011).
a. Setiap orang adalah tutor dan sekaligus warga belajar sehingga bisa saling berfungsi sebagai fasilitator.
b. Bagi kebanyakan orang belajar akan sangat efektif jika dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, lingkungan dan suasana yang tidak terlalu formal, penataan duduk setengah melingkar tanpa meja, penataan sinar atau cahaya yang baik sehingga peserta merasa santai dan relaks.
c. Setiap orang mempunyai gaya belajar, bekerja dan berpikir yang unik dan berbeda yang merupakan pembawaan alamiah sehingga kita tidak perlu merubahnya dengan demikian perasaan nyaman dan positif akan terbentuk dalam menerima informasi atau materi yang diberikan oleh fasilitator.
d. Modul pelajaran tidak harus rumit tapi harus dapat disajikan dalam bentuk sederhana dan lebih banyak kesuatu kasus nyata atau aplikasi langsung.
e. Dalam menyerap dan mengolah informasi otak menguraikan dalam bentuk simbol atau asosiatip sehingga materi akan lebih mudah dicerna bila lebih banyak disajikan dalarn bentuk gambar, diagram, flow atau simbol.
f. Kunci menuju kesuksesan model quantum learning adalah latar belakang (background) musik klasik atau instrumental yang telah terbukti memberikan pengaruh positip dalarn proses pembelajaran. Musik klasik dari Mozart, bach, Bethoven, dan Vivaldi dapat meningkatkan kemampuan mengingat, mengurangi stress, meredakan ketegangan, meingkatkan energi dan membesarkan daya ingat. Musik menjadikan orang lebih cerdas.
g. Penggunaan Warna dalam model quantum learning dapat meningkatkan daya tangkap dan ingat sebanyak 78%.
h. Metoda peran dimana peserta berperan lebih aktif dalam membahas materi sesuai dengan pengalamannya melalui pendekatan terbalik yaitu membuat belajar serupa bekerja (pembelajaran orang dewasa)
i. Sistim penilaian yang disarankan untuk abad 21 dalam pembelajaran adalah 50% penilaian diri sendiri, 30% penilaian teman, 20% penilaian trainer atau atasan.
j. Umpan balik yang positif akan mampu memotivasi anak untuk berprestasi namun umpan balik negative akan membuat anak menjadi frustasi. Ini berdasar hasil riset pakar masalah kepercayaan diri, Jack Carfiled pada tahun 1982. 100 anak ditunjuk oleh periset selama sehari. Hasilnya, bahwa setiap anak rata-rata menerima 460 komentar negative dan hanya 75 komentar positif.
Beberapa hal yang penting dicatat dalam QL adalah sebagai berikut. Para warga belajar dikenali tentang “kekuatan pikiran” yang tak terbatas. Ditegaskan bahwa otak manusia mempunyai potensi yang sama dengan yang dimilliki oleh Albert Einstein. Selain itu, dipaparkan tentang bukti fisik dan ilmiah yang memerikan bagaimana proses otak itu bekerja. Melalui hasil penelitian Global Learning, dikenalkan bahwa proses belajar itu mirip bekerjanya otak seorang anak 6-7 tahun yang seperti spons menyerap berbagai fakta, sifat-sifat fisik, dan kerumitan bahasa yang kacau dengan “cara yang menyenangkan dan bebas stres”. Bagaimana faktor-faktor umpan balik dan rangsangan dari lingkungan telah menciptakan kondisi yang sempurna untuk belajar apa saja. Hal ini menegaskan bahwa kegagalan, dalam belajar, bukan merupakan rintangan. Keyakinan untuk terus berusaha merupakan alat pendamping dan pendorong bagi keberhasilan dalam proses belajar. Setiap keberhasilan perlu diakhiri dengan “kegembiraan dan tepukan.”
Kerangka perancangan pengajaran Quantum Learning dengan pendekatan TANDUR pada pendidikan non formal adalah sebagai berikut.
a) Tumbuhkan
Tumbuhkan minat belajar warga belajar dengan memuaskan rasa ingin tahu dalam bentuk : Apakah Manfaatnya Bagiku (AMBAK) jika aku mengikuti topik pelajaran ini dengan guruku? Tumbuhkan suasana yang menyenangkan di hati warga belajar, dalam suasana relaks, tumbuhkan interaksi dengan warga belajar, masuklah ke alam pikiran mereka dan bawalah alam pikiran mereka ke alam pikiran anda, yakinkan warga belajar mengapa harus mempelajari ini dan itu, belajar adalah suatu kebutuhan warga belajar, bukan suatu keharusan.Tumbuhkan niat yang kuat pada diri anda bahwa anda akan menjadi guru dan pendidik yang hebat.
Alami
Unsur ini mendorong hasrat alami otak untuk “menjelajah”. Cara apa yang terbaik agar warga belajar memahami informasi? Kegiatan apa yang dapat diberikan agar pengetahuan dan keterampilan yang sudah dimiliki warga belajar bertambah.
b) Namai
Setelah warga belajar melalui pengalaman belajar pada topik tertentu, ajak mereka untuk menulis di kertas, menamai apa saja yang telah mereka peroleh, apakah itu informasi, rumus, pemikiran, tempat dan sebagainya, ajak mereka untuk menempelkan nama-nama tersebut di dinding kelas dan dinding kamar tidurnya.
c) Demonstrasikan
Melalui pengalaman belajar warga belajar mengerti dan mengetahui bahwa dia memiliki kemampuan (kompetensi) dan informasi (nama) yang cukup, sudah saatnya dia mendemonstrasikan dihadapan guru, teman, maupun saudara-saudaranya.
d) Ulangi
Pengulangan memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “aku tahu bahwa aku tahu ini!”.
e) Rayakan
Perayaan adalah ekspresi kelompok atau seseorang yang telah berhasil mengerjakan sesuatu tugas atau kewajiban dengan baik. Jadi, jika warga belajar sudah mengerjakan tugas dan kewajibannya dengan baik, layak untuk dirayakan lewat bertepuk tangan, bernyanyi bersama-sama, atau secara bersama-sama mengucapkan “aku berhasil!
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
1) Quantum Learning merupakan suatu kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman daya ingat, serta belajar sebagai proses yang menyenangkan dan bermakana.
2) Langkah Quantum Learning terdiri dari tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi, dan rayakan.
3) Pendidikan non formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
4) Kondisi psikologis anak pada pendidikan non formal beragam, dan jelas berbeda dengan psikologis anak pada pendidikan formal.
5) Penerapan Quantum Learning pada pendidikan formal harus disesuaikan dengan kondisi warga belajar, sehingga nantinya bisa bermanfaat bagi warga belajar.
3.2 Saran
Quantum Learning perlu diterapkan di pendidikan non formal khususnya pendidikan kesetaraan, karena mengingat pendidikan kesetaraan sesungguhnya memiliki masalah yang sama dengan pendidikan formal. Kesulitan pendanaan, buruknya sarana prasana hingga keterbatasan pengajar, dan yang paling utama psikologis warga belajar menjadikan pendidikan kesetaraan tidak menjadi pilihan bagi mereka yang tidak mampu mengikuti pendidikan formal. Parahnya, pendidikan kesetaraan malah dijadikan ’keranjang sampah’ bagi warga belajar yang tidak lulus ujian nasional. Makalah ini setidaknya bisa dijadikan informasi berharga bagi pemerintah dan mereka yang terlibat dalam pendidikan non formal untuk semakin memacu kualitas. Agar tercipta akses pendidikan yang merata bagi anak bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
Bell Gredler, E. Margaret. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: CV. Rajawali Moll, L. C. (Ed.).
DePorter, B., & Hernacki, M. 2011. Quantum Learning (membiasakan belajar nyaman dan menyenangkan). Kaifa: Bandung
Suharsaputra, U. 2011. Pendidikan Non Formal. Terdapat pada uharsputra.wordpress.com/pendidikan/pendidikan-nonformal/. Diakses tanggal 2 November 2011.
Sudrajat, A. 2008. Konsep Quantum Learning. Terdapat pada http:// Konsep%20Quantum%C2%A0Learning%20%20%20akhmad%20sudrajat% 20%20tentang%20pendidikan. htm. Diakses tanggal 2 November 2011.
Baedowi, A. 2010. Sekolah Non Formal. Terdapat pada http://kickandy.com/ friend/ 4/37/1943/read/sekolah-non-formal.html. Diakses tanggal 2 November 2011.
Wikipedia. 2011. Teori Belajar Behavioristik. http://id.wikipedia.org/wiki/ Teori_Belajar_Behavioristik.
Slavin, R.E. 2008. Educational Psychology: Theory and Practice. Eight Edition. Boston: Allyn and Bacon.
Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Surabaya: Masmedia Buana Pustaka.
Armina. 2011. Pendidikan Kesetraan. Terdapat pada www.paudni.kemdiknas.go.id/ dikmas/nilem-pkbm//printxls.php? Diakses tanggal 2 November 2011.
Langganan:
Postingan (Atom)


